Teknologi Full Self-Driving yang ambisius dari Tesla, yang telah lama diperjuangkan oleh CEO Elon Musk sebagai kemajuan revolusioner dalam inovasi otomotif, menghadapi perlawanan signifikan dari konsumen Amerika. Sebuah survei komprehensif mengungkapkan bahwa alih-alih menarik calon pembeli, sistem mengemudi otonom yang kontroversial ini justru secara aktif menghalangi pelanggan dan menimbulkan pertanyaan serius tentang status hukumnya.
![]() |
---|
Tampilan menonjol dari merek Tesla , menyoroti perannya dalam diskusi berkelanjutan tentang teknologi Full Self-Driving |
Sentimen Konsumen Berbalik Melawan Teknologi FSD
Laporan Electric Vehicle Intelligence Report dari Slingshot Strategies untuk bulan Agustus, yang mensurvei lebih dari 8.000 orang Amerika, menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan bagi teknologi unggulan Tesla. Hanya 14% konsumen yang menunjukkan bahwa FSD membuat mereka lebih mungkin untuk membeli kendaraan Tesla. Sebaliknya, 35% menyatakan teknologi tersebut justru membuat mereka kurang tertarik untuk membeli, sementara 51% melaporkan bahwa hal ini tidak membuat perbedaan dalam keputusan pembelian mereka. Rasio negatif 2-banding-1 ini merupakan tantangan pemasaran yang signifikan bagi produsen kendaraan listrik tersebut.
Rincian Hasil Survei
Metrik | Persentase |
---|---|
Konsumen yang mengatakan FSD membuat mereka lebih tertarik membeli Tesla | 14% |
Konsumen yang mengatakan FSD membuat mereka kurang tertarik membeli Tesla | 35% |
Konsumen yang percaya FSD seharusnya ilegal | 48% |
Konsumen yang percaya FSD seharusnya legal | 35% |
Konsumen yang mendukung pendekatan khusus kamera | 3% |
Konsumen yang menginginkan LiDAR dan kamera | 70% |
Konsumen yang menganggap nama "Autopilot" menyesatkan | 49% |
Konsumen yang menganggap mobil Tesla "sangat aman" | 13% |
Kekhawatiran Hukum Mencapai Massa Kritis
Mungkin yang paling mengkhawatirkan bagi Tesla adalah temuan bahwa 48% peserta survei percaya teknologi FSD seharusnya dilarang sepenuhnya. Hanya 35% yang mendukung legalitasnya, dengan sisanya menyatakan ketidakpastian. Sentimen ini sejalan dengan meningkatnya seruan untuk akuntabilitas perusahaan dalam kecelakaan kendaraan otonom, karena dua pertiga konsumen percaya Tesla harus memberikan kompensasi kepada korban kecelakaan yang melibatkan sistem bantuan mengemudi mereka.
Kepercayaan Merek Anjlok ke Level Terendah dalam Sejarah
Persepsi merek Tesla secara keseluruhan telah memburuk secara dramatis, dengan perusahaan meraih rating positivitas merek negatif 15 di antara konsumen—lebih dari dua kali lipat dari bulan April. Skor kepercayaan telah turun ke negatif 12, empat kali lipat dari periode pengukuran sebelumnya. Tesla kini menjadi satu-satunya merek kendaraan listrik yang dipandang negatif secara keseluruhan oleh konsumen, sementara produsen otomotif tradisional seperti Toyota dan Honda mempertahankan rating positif.
Metrik Performa Merek Tesla
- Skor Positivitas Merek: -15 (lebih dari dua kali lipat dari bulan April)
- Skor Kepercayaan: -12 (empat kali lipat dari bulan April)
- Ukuran Sampel Survei: Lebih dari 8.000 konsumen Amerika
- Ganti Rugi Hukum yang Dituntut: USD 345 juta (kasus Autopilot 2019)
- Penyelesaian Hukum Terbaru: Lebih dari USD 300 juta (kecelakaan fatal Florida)
![]() |
---|
Interior modern kendaraan Tesla , mencerminkan persepsi konsumen di tengah menurunnya kepercayaan merek dan kekhawatiran terhadap teknologi |
Persepsi Keamanan dan Kekhawatiran Teknis
Survei mengungkapkan skeptisisme mendalam tentang pendekatan teknis Tesla terhadap mengemudi otonom. Sementara Tesla beralih ke sistem khusus kamera setelah menghapus radar dan sensor ultrasonik pada tahun 2021, hanya 3% responden yang mendukung metodologi ini. Sebanyak 70% yang luar biasa percaya kendaraan otonom harus menggabungkan LiDAR dan kamera, dengan 71% menginginkan mandat pemerintah yang mewajibkan kedua teknologi tersebut.
Pertarungan Hukum Meningkatkan Pengawasan
Tantangan hukum Tesla terus bertambah karena perusahaan menghadapi persidangan cedera pribadi atas kecelakaan fatal Autopilot tahun 2019. Pengacara penggugat berargumen bahwa Musk dan Tesla membuat pernyataan menyesatkan tentang kemampuan keamanan Autopilot, yang berpotensi meningkatkan ketergantungan berlebihan pengemudi pada sistem tersebut. Kasus ini menuntut ganti rugi sekitar 345 juta dolar Amerika. Selain itu, Tesla baru-baru ini diperintahkan untuk membayar lebih dari 300 juta dolar Amerika untuk kecelakaan fatal Autopilot lainnya di Florida, dengan juri federal menemukan perusahaan tersebut sebagian bertanggung jawab atas praktik pemasaran yang menipu.
Kontroversi Pemasaran dan Penamaan
Kebingungan konsumen meluas ke terminologi Tesla, dengan 49% peserta survei menganggap nama Autopilot menyesatkan mengingat kemampuan sebenarnya dari sistem tersebut. Fitur Autopilot standar, yang disertakan dengan setiap Tesla, hanya menyediakan kontrol jelajah adaptif dan fungsi kemudi otomatis sambil mengharuskan pengemudi mempertahankan pengawasan dengan tangan di kemudi. Hampir 80% konsumen mendukung regulasi yang mewajibkan Tesla untuk secara akurat mendemonstrasikan keterbatasan ini dalam materi iklan.
Implikasi Lebih Luas untuk Masa Depan Tesla
Hasil survei ini memperparah tantangan yang sudah ada bagi Tesla, termasuk penurunan angka penjualan, khususnya di pasar Eropa, dan antisipasi penghapusan kredit pajak federal 7.500 dolar Amerika untuk kendaraan listrik. Hanya 13% responden yang menganggap kendaraan Tesla sangat aman, dan 47% tidak memandangnya sebagai pilihan yang ramah keluarga—kesenjangan persepsi yang tidak dihadapi produsen otomotif lain hingga tingkat seperti ini.