Dalam perkembangan yang mengejutkan, raksasa teknologi asal Tiongkok, Xiaomi, menemukan dirinya terjerat dalam krisis hubungan masyarakat yang signifikan. Kali ini bukan karena cacat produk atau laporan keuangan, melainkan akibat keputusan pemasaran yang kontroversial. Upaya perusahaan untuk bekerja sama dengan figur online yang memecah belah telah memicu badai kritik dari basis penggemar paling setianya, yang berujung pada permintaan maaf publik, kontrak yang diakhiri, dan tindakan disiplin internal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Insiden ini menyoroti hubungan yang kompleks dan seringkali fluktuatif antara korporasi besar, pendukung inti mereka, dan ekosistem influencer di era digital.
Percikan yang Memicu Badai
Kontroversi ini berpusat pada keputusan Xiaomi untuk memulai kemitraan komersial dengan seorang blogger yang dikenal daring dengan nama "Universal Big Bear" (万能的大熊). Figur ini memiliki sejarah panjang dan terdokumentasi dalam mengkritik Xiaomi, produknya, dan komunitas penggemarnya yang dikenal sebagai "Mi Fans" atau "米粉". Selama bertahun-tahun, sebagian komunitas Mi Fan terlibat dalam perseteruan online yang sengit dengan blogger tersebut, menciptakan permusuhan yang mendalam. Situasi semakin memanas ketika, setelah acara peluncuran seri Xiaomi 17, terungkap bahwa blogger tersebut telah diundang ke acara tersebut, menerima ponsel Xiaomi 17 Ultra edisi Leica secara gratis, dan kemudian menerbitkan konten yang dianggap mendukung Xiaomi, yang menurutnya sendiri merupakan kolaborasi berbayar.
Timeline Peristiwa:
- Pasca Peluncuran Xiaomi 17: Blogger kontroversial "Universal Big Bear" diundang ke acara dan menerima ponsel Xiaomi 17 Ultra Leica.
- Awal Januari 2026: Blogger memposting konten yang dianggap sebagai promosi berbayar untuk Xiaomi, mengkonfirmasi kecurigaan penggemar akan adanya kemitraan.
- 5 Januari 2026: Kemarahan Mi Fan meledak di media sosial. KOL "Afternoon Nap" mengumumkan pemutusan kontrak.
- 5 Januari 2026, 21:56 (UTC+8): Kepala PR Xiaomi Xu Jieyun mengeluarkan permintaan maaf publik dan memutus hubungan dengan blogger tersebut.
- 7 Januari 2026: Muncul laporan tentang tindakan disiplin internal yang berat di Xiaomi, termasuk pemecatan seorang karyawan dan pemotongan bonus untuk eksekutif senior.
Pemberontakan Komunitas dan Pembelotan Profil Tinggi
Pengungkapan kemitraan ini memicu penolakan langsung dan intens dari komunitas Mi Fan. Para penggemar membanjiri akun media sosial eksekutif Xiaomi, termasuk CEO Lei Jun dan kepala PR Xu Jieyun, dengan keluhan dan ekspresi pengkhianatan. Krisis meningkat secara dramatis ketika seorang Key Opinion Leader (KOL) teknologi besar dengan pengikut signifikan, yang dikenal sebagai "Afternoon Nap" (午后狂睡), turut campur secara publik. Mengklaim memiliki kontrak tahunan dengan Xiaomi yang lebih besar daripada blogger kontroversial tersebut, "Afternoon Nap" mengumumkan bahwa dia mengakhiri semua kerja sama dengan Xiaomi sebagai bentuk protes. Dia secara simbolis memberikan ponsel Xiaomi 17 Ultra Leica miliknya dan mendesak perusahaan untuk memprioritaskan pengguna setianya daripada figur pemasaran yang kontroversial, merumuskan masalah ini sebagai pelanggaran kepercayaan mendasar dengan basis pendukung inti Xiaomi.
Tokoh-Tokoh Kunci yang Terlibat:
- Universal Big Bear (万能的大熊): Blogger kontroversial di pusat skala kemitraan, dikenal karena kritiknya terhadap Xiaomi di masa lalu.
- Afternoon Nap (午后狂睡): Seorang KOL teknologi besar yang secara publik mengakhiri kontraknya dengan Xiaomi sebagai bentuk protes.
- Xu Jieyun: Kepala Hubungan Masyarakat Grup Xiaomi, yang mengeluarkan permintaan maaf publik.
- Lei Jun: Pendiri dan CEO Xiaomi.
- Xu Fei: Chief Marketing Officer (CMO) Xiaomi.
Pengendalian Kerusakan Cepat dan Ketat Xiaomi
Menghadapi pemberontakan komunitas penuh dan pembelotan sangat publik dari mitra utama, departemen PR Xiaomi yang dipimpin oleh Xu Jieyun, bergerak cepat untuk membatasi dampaknya. Pada 5 Januari 2026, Xu mengeluarkan permintaan maaf publik di media sosial, mengakui "kontak" dengan blogger kontroversial tersebut dan menyatakan bahwa segala bentuk kerja sama potensial telah diakhiri dan tidak akan dilanjutkan kembali. Dia meminta maaf karena menyebabkan "kegelisahan dan ketidaknyamanan" bagi pengguna dan Mi Fans. Namun, permintaan maaf saja tidak cukup untuk meredakan kemarahan. Situasi tetap menjadi topik tren teratas di media sosial Tiongkok, memaksa perusahaan untuk mengambil tindakan internal yang lebih drastis.
Disiplin Internal yang Belum Pernah Terjadi Menyusul Permintaan Maaf Publik
Dalam langkah yang digambarkan oleh pengamat sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya," manajemen Xiaomi dilaporkan memberlakukan tindakan disipliner berat terhadap karyawan yang terlibat dalam keputusan tersebut. Menurut laporan selanjutnya, karyawan Xiaomi yang berhubungan langsung dengan blogger "Universal Big Bear" diberhentikan dari perusahaan. Lebih lanjut, Chief Marketing Officer Xu Fei dan Group PR Head Xu Jieyun dihukum dengan pemotongan bonus kinerja dan imbalan akhir tahun mereka untuk tahun 2025. Hukuman internal yang berat ini menegaskan betapa seriusnya kepemimpinan Xiaomi memandang kesalahan strategis ini dan kerusakan pada hubungannya dengan komunitas intinya.
Tindakan Disiplin Internal Xiaomi (Yang Dilaporkan):
| Orang/Peran | Tindakan yang Diambil |
|---|---|
| Karyawan yang berhubungan dengan "Universal Big Bear" | Diberhentikan dari perusahaan. |
| Xu Fei (Chief Marketing Officer) | Kinerja 2025 dan bonus akhir tahun dipotong. |
| Xu Jieyun (Kepala PR Grup) | Kinerja 2025 dan bonus akhir tahun dipotong. |
Implikasi Lebih Luas bagi Pemasaran Teknologi
Insiden ini melampaui sekadar kesalahan PR sederhana, menawarkan pelajaran nyata dalam manajemen komunitas dan pemasaran influencer bagi perusahaan teknologi. Ini menunjukkan kekuatan dan pengaruh besar dari basis penggemar yang berdedikasi dalam lanskap teknologi Tiongkok. Bagi Xiaomi, perusahaan yang secara historis membina hubungan yang kuat dan langsung dengan penggunanya, keputusan untuk bermitra dengan figur yang secara terbuka memusuhi komunitas itu sendiri dipandang sebagai pengkhianatan mendalam terhadap nilai-nilai bersama. Episode ini juga mengungkapkan sifat kompetitif dan terkadang kejam dari ekosistem KOL, di mana kepentingan bisnis dan pencitraan publik dapat berbenturan secara dramatis. Seiring perusahaan semakin mengandalkan influencer digital untuk pemasaran, kasus ini menjadi peringatan tentang risiko memprioritaskan jangkauan daripada keselarasan dengan etos merek dan sentimen komunitas.
